UNIVERSALISME
ISLAM DAN KOSMOPOLITANISME
KEBUDAYAAN ISLAM
Mengatakan bahwa ISLAM agama universalisme hampir sama kedengarannya dengan mengatakan bahwa bumi itu bulat. Hal itu terutama benar untuk masa masa akhir ini, ketika ide dalam ungkapan itu sering di kemukakan orang, baik untuk sekedar bagian dari suatu apologia maupun untik pembahasan yang lebih bersungguh sungguh.
Walaupun begitu, agaknya benar jika di katakan bahwa tidak semua orang menyadari apa hakikat universalisme ISLAM itu, apalagi implikasinya dalam bidang bidang lain yang lebih luas. Sama dengan tidak sadarnya banyak orang tentang apa hakikat kebulatan bumi, apalagi akibat yang di timbulkannya, praktis maupun teoritis. Misalnya saja mungkin, kebanyakan orang akan heran jika di katakan bahwa bumi bulat membawa akibat tdak adanya garis lurus di permukaannya (semua garis dengan sendirinya melengkung) dan bahwa perjalanan udara dari tokyo ke paris akan jauh lebih cepat, karena jauh lebih pendek, lewat kutub utara daripada lewat, katakan moscow, mengikuti apa yang di sebut “great circle”.
Dalam percakapan sehari hari, orang orang muslim tidak jarang mengemukakan bahwa agama mereka adalah “sesuai dengan segala jaman dan tempat” (Al-ISLAM Shalih li kulli zaman wa makan). Ini di buktikan antara lain oleh pengamatan bahwa ISLAM adalah agama yang paling banyak mencakup berbagai ras dan kebangsaan, dengan kawasan pengaruh yang meliputi hampir semua ciri klimatologi dan geografis. Sudah sejak semula, seperti sudah di lihat dalam kehidupan nabi dan sabda sabda beliau, agama ISLAM menyadari penghadapannnya dengan kemajemukan rasial dan budaya. Karena itu ia tumbuh bebas dari klaim klaim eksklusivitas rasialistis ataupun linguistis. Bahkan seperti halnya dengan semua kenyataan lahiriah, kenyataan rasial dan kebahasaan dengan tegas di turunkan nilainya dari kedudukan mitologisnya atau cara pandang kepadanya disublimasi dengan amat bijaksana ke daratan lebih tinggi, yaitu dataran spiritual, dengan memandangnya sebagai pertanda kebesaran Tuhan (ayat alloh).
Itu semua terjadi karena dalam pandangan ISLAM yang penting pada manusia ialah alam atau nature kemanusiaan itu sendiri. Sama dengan setiap kenyataan alami, kemanusiaan manusia tidak terpengaruh oleh zaman dan tempat, asal usul rasial dan kebahasaan, melainkan tetap ada tanpa perubahan dan peralihan. Maka karena ISLAM berurusan dengan alam kemanusiaan itu, ia ada bersama manusia dan ini berarti tanpa pembatasan oleh ruang dan waktu serta kualitas kualitas lahiriah hidup manusia.
UNIVERSALISME ISLAM (1)
Yang pertama tama menjadi sumber ide tentang universalisme ISLAM ialah pengertian perkataan ISLAM itu sendiri. Sikap pasrah kepada tuhan tidak saja merupakan ajaran tuhan kepada hambanya, tetapi ia di ajarkan olehnya dengan disangkutkan kepada alam manusia itu sendiri, sebagaimana telah di singgung di atas. Dengan kata lain, ia di ajarkan sebagai pemenuhan alam manusia, sehingga pertumbuhan perwujudannya pada manusia sealalu bersifat dari dalam, tidak tumbuh, apalagi dipaksakan dari luar. Sikap keagamaan hasil paksaan dari luar adalah tidak otentik, karena kehilangan dimensinya yang paling mendasar dan mendalam, yaitu kemurnian atau keikhlasan.
Karena sikap pasrah kepada tuhan yang maha esa itu merupakan tuntutan alami manusia, maka agama (arab: ad-din, secara harfiah antara lain berarti ketundukan, kepatuhan atau ketaatan) yang sah tidak bisa lain daripada sikap pasrah kepada tuhan (al-ISLAM). Maka tidak agama tanpa sikap itu, yakni keagamaan tanpa kepasrahan kepada tuhan adalah adalah tidak sejati.
Karena prinsip prinsip itu maka semua agama yang benar pada hakikatnya adalah al-ISLAM, yakni semuanya mengajarkan sikap pasrah kepada sang maha esa. Dalam kitab suci berulang kali kita dapati penegasan bahwa agama para nabi terdahhulu sebelum nabi muhammad adalah semuanya al-ISLAM, kerena inti semuanya adalah ajaran tentang sikap pasrah kepada tuhan. Atas dasar inilah maka agama yang di bawa oleh nabi muhammad disebut agama ISLAM, karena ia secara dasar dan dengan penuh delibrasi mengajarkan sikap pasrah kepada tuhan, sehingga agama nabi muhammad merupakan al-ISLAM par excellence, namun bukan satu satunya dan tidak unik dalam arti berdiri sendiri, melainkan tampil dalam rangkaian dengan agama agama al-ISLAM yang lain, yang tetap tampil terdahulu.
Dalam hal ini Abdulloh Yusuf Ali memberi penegasan berikut :
The muslim position is clear. Teh moslem does not claim to have a religion paculiar to him self. ISLAM is not a sect or an ethnic religion. In its vieq all, religion is one, for the truth is one. Its was the religion preached by all the earlier prophet. It was the truth taught by all the inspired books. In essence it amounts to a conciousness of the will and plan of god an a joyful sumission to that will and plan. If anyone wants a religion other than that, he is false to his own nature, as he false to god’s will and plan. Such a one cannot expect guidance, for he has deliberateky renounced guidance.
(sikap seorang muslim jelas. Seorang muslim tidak mengaku mempunyai agama yang khas untuk dirinya. ISLAM buknlah sebuah sekte atau agama etnis. Dalam pandangannya, semua agama adalah satu (sama). Ia adalah agama yang di ajarkan oleh semua nabi yang terdahulu. Ia adalah kebenaran kepada suatu kesadaaran tentang adanya kehendak dan rencana tuhan serta sikap pasrah suka rela (dengan senang hati) kepada kehendak dan rencana itu. Kalalu seorang menghendaki agama selain sikap itu, ia tidak sejati (palsu) kepada hakikat dirinya sendiri, sebagaimana ia tidak sejati kepada kehendak dan rencana tuhan. Orang serupa itu tidak di harapkan mendapatkan petunjuk, sebab ia dengan sengaja telah menolak petunjuk itu.
Dibawah cahaya prinsip dan pengertian itulah seharusnya kita membaca dan memahami kitab suci al-quran khususnya berkenaan dengan kata kata ISLAM dan segenap derivsinya seperti kata kata muslim sebagai kata benda pelaku (participle) atau kata sifat dari ISLAM, dan seterusnya. Berkenaan dengan ini, muhamad asad memberi urauian berikut :
(jelas bahwa al-quran tidak dapat di pahami secara benar jika kita membacanya hanya dibawah cahaya (pengaruh) ideologi hasil perkembangan kemudian hari, dengan kehilangan pandangan akan tujuan dan makna aslinya yang ada padanya dahulu dan yang memang di maksudkan demikian ini untuk selamanya bagi orang oarang yang pertamakali mendengarnya langsung dari nabi sendiri. Misalnnya setiap kali mereka yang sezaman dengan beliau itu mendengar perkataan ISLAM atau muslim, mereka memahaminya bahwa ISLAM menunjuk kepada makna seorang yang pasrah kepada tuhan tanpa membatasi istilah istilah itu hanya kepada komunitas atau kelompok agama tertentu saja.... dalam bahasa arab, pengertian orisinil ini tidak pernah rusak(menyimpang) dan tidak ada seorang sarjana (ulama) arab yang mengabaikan konotasi luas istilah istilah itu. Namun tidaklah demikian seorang bukan arab pada zaaman kita, baik yang beriman kepada nabi muhammad maupun yang tidak beriman, baginya Islam dan muslim biasanya mengandung suatu makna yang terbatas dan secara tertentu digariskan oleh perkembangan sejarah, serta secara khusus berlaku hanya untuk para pengikut nabi muhammad).
Penegasan muhammad asad itu adalah di buat berdasarkan berbagai keterangan dalam al-quran sendiri, yang kemudian tetap bertahan dalam kitab kitab tafsirnya. Sebagiamna telah di singgung, al-quran memandang semua agama (yang benar, yakni datang dari tuhan) adalah al-Islam atau ajaran tentang pasrah kepada tuhan.
Bahkan pandangan ini sebenarnya terkait dengan prinsip yang lebih luas, yang membentuk bagian amat penting weltaunschuung al-quran, yaitu bahwa sikap pasrah kepada tuhan itu merupakan hakikat dari seluruh alam yaitu sikap pasrah pihak ciptaan kepada ciptaannya, yaitu tuhan. Ini di gambarkan sebagai rangakian drama kosmis dalam permualaan penciptaannya alloh akan seluruh alam raya, dengan firmannya.
Kemudian alloh menyempurnakan prmciptaan langit, dan langit itu seperti asap, lalu berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah (tunduklah, pasrahlah) kamu berdua dengan taat atau terpaksa” maka jawab keduanya itu, kami datang dengan taat”.
Maka ketaatan langit dan bumi (yakni benda benda mati) kepada tuhan adalah kepasrahan dan keIslamannya. Inilah ayang menjadi dasar adanya keteraturan dan “predictability” pada huukum alam” sampai batas yang amat jauh, sehingga dapat dipedomani (kemudian di gunakan) oleh manusia melalui pemahamannya akan hukum hukum itu (ilmu pengetahuan).
Karena semua makhluk hidup diciptakan dari benda mati dan berasal dari bahan langit dan bumi (yaitu dari debu (turob) atau tanah liat (thin) seperti banyak penuturan dalam kitab suci tentang penciptaan adam dan manusia pada umumnya, atau dari api (naar), atau cahaya (nuur) pada penciptaan malaikat, jin dan syetan), maka pada diri ssetiap makhluk hidup pun ada natur kepasrhan kepada tuhan, sebagaimana bahannnya itu pasrah kepadanya. Hanya saja berbeda dari benda benda mati, kepasrahan manusia kepada tuhan itu tidak terjadi secara ortomatis dan pasti melainkan karena pilihan dan keputusannya sendiri. Ini membuuat manusia makhluk moral, dalam arti bahwa lepasrahannya kepada tuhan merupakan pilihan baiknya (pahala) , dan tidak adanya sikap itu merupakan pilihan buruknya (dosa). Karena itu peringatan kepada manusia untuk pasarah kepada tuhan sering kklali di kaitkan dengan peringatan bahwa seluruh alam ini pasrah kepada tuhan, demikian pula seluruh makhluk hidup di langit dan di bumi selain manusia, sehingga kamu dapat hidup serasi dan dalam kedamaian , (salam) dengan selurh ciptaan tuhan yang lain itu? Inilah yang di pahami dari firman alloh :
Apakah mereka akan mengikuti (suatu agama) selain agama (ketaatan kepada) alloh? padahal telah pasrah kepadanya siapa saja yang ada di langit dan di bumi, karena taat dan (sadar) ataupun karena terpaksa (tidak sadar ) ataupun karena terpaksa (tidak sadar), dan semuanya akan di kembalikan kepadanya.
Kelebihan manusia terhadap makhluk makhluk yang lain ialah bahwa ia, dalam salah satu tahap proses penciptaannya oleh tuhan, termasuk suatu tahap dalam perkembangan janin di rahim ibu setelah pertemuan ovum dan sperma, di tiupkan ke dalam tubuh materialnya itu sesuatu dari ruh ilahi, sehingga sejak itu janin menjadi makhluk lain, yaitu manusia.
Itulah dia tuuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nampak, yang maha mulia dan maha pengasih. Dia yang membuat segala sesuatu yang di ciptakan nya itu baik, dan yang telah memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian ia ciptakan anak turunnya dari sari pati berupa cairan yang (nampak) hina (sperma), lalu di sempurnakannya dan di tiupkan ke dalamnya (sesuatu) dari ruh nya nya. Dia (dengan begitu) dia ciptakan untuk kamu sekalian (manusia) pendengarannya, penglihatan dan hati nurani. Namun sedikit saja kamu berterimakasih.
Sungguh kami (tuhan) telah ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kemudian sari pati itu kami jadikan sperma, yang tersimpan di tempat menetap yang sangat terlindungi (rahim). Lalu sperma itu kami jadikan segumpal darah, dan segumpal daging itu tulang, dan tulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikanlah ia suatu mahluk yang lain (yakni manusia benar benar). Maha terpujlah alloh, sebaik baik semua pencippta. Kemudian sesungguhnya kamu semua pada hari kiamat akan di bangkitkan kembali.
Disebabkan adanya sesuatu yang sangat istimewa pada manusia, yaitu sesuatu dari ruh tuhan itu, maka manusia mempunyai kesadaran penuh dengan kemampuan untuk memilih itu, yakni secara singkat, kebebasan adalah ciri manusia , merupakan unsurnya yang berasal dari ruh tuhan. Namun kebebasan manusia adalah kebebasan terbatas, sebab kebebasan mutlak hanya ada pada diri dan wujud yang mutlak pula, yaitu alloh. Salah satu unsur keterbatasan manusia itu ialah bahwa bagaimanapun dan betapapun perkembangan dirinya, ia masih tetap harus tunduk dan pasrah kepada tuhan (malakukan al-Islam). Itu adalah unsur nature (fitrah) manusia, yang dalam firman lain di lukiskan sebagai perjanjian (primordial) antara anak turun adam dengan alloh sendiri.
Dan ketika tuhanmu mengembangkan dari anak cucu adam, yaitu dari punggung mereka, keturunan mereka (ummat manusia) dan meminta mereka bersaksi atas diri mereka, bukankah aku ini tuhan mu? Mereka semua menyahut, Ya, kami semua bersaksi. (maka janganlah) kamu berkata di hari kiamat, sesungguhnya kami lupa akan hal ini.
Tidak bisa lain bahwa persaksian akan alloh itu mengandung makna dan kesedihan secara taat dan suka rela untuk tunduk dan pasrah kepadanya, yaitu Islam. Sebagai kelanjutan perjanjian primordial antara setiap pribadi manusia, atau manusia itu secara keseluruhannya dengan tuhan, maka menjalankan al-Islam bagi manusia adalah sama nilainya dengan berjalannya alam (secara tidak sadar) mengikuti hukum hukumnya sendiri yang di tetapkan oleh alloh, maha pencipta. Karena itu al-Islam bersifat alami, wajar, fitri dan natural. Sedangkan sikap sebaliknya, yaitu sikap menentang kehendak dan rencana tuhan adalah tidak alami dan tidak wajar, atau absurd, seperti absurdnya alam yang berjalan tidak mengikuti hukum hukumnya sendiri.
UNIVERSALISME ISLAM (II)
Pandangan yang amat findamental di atas menunjukan, bagaimana dimengerti oleh mereka yang beriman kepada nabi muhammad sejak dari masa lalu sampai sekarang, bahwa sikap pasrah atau al-Islam manusia kepada tuhan sudah menjadi tuntutan dan keharusan sejak saat saat pertama di ciptakannya manuusia. Tapi sekalipun merupakan natur manusia dan kelanjutan perjanjian primordialnya dengan tuhan, manusia dari waktu ke waktu melupakannya dan ini membuatnya selalu menyandang sengsara. Maka tuhan dengan rahmatnya dan kasihnya memperingatkan manusia akan naturnya sendiri itu, dan menyampaikan ajaran ajaran kepasrahan kepadanya. Ajaran itu di bawa oleh para nabi dan rosul silih berganti, sejak nabi adam, bapak ummat manusia sampai akhirnya di sudahi oleh nabi muhammad saw.
Namun secara jelas dan harfiah dituturkan dalam kitab suci bahwa yang pertamakali menyadari sikap pasrah kepada tuhan itu sebagai inti agama ialah nabi nuh, rosul alloh urutan ke tiga dalam deretan dua puluh lima rosul, seperti di (percayai umum) setelah adam dan idris. Diturunkan bahwa nabi nuh mendapat perintah alloh untuk menjadi salah seorang yang muslim, yakni pelaku dan bersifat al-Islam, pasrah kepada tuhan :
Dan tuturkanlah (wahai) muhammad kepad mereka berita nuh, ketika ia berkata kepada kaumnya, “wahai kaumku, jika aku berdiam (bersama kamu) ini terasa berat bagi kamu, begitu pula perintahku akan ayat ayat alloh, maka aku hanyalah bertawakal kepada alloh. Karena itu sepakatilah rencanamu sekalian bersama sekutu sekutumu, sehingga rencanamu itu tidak lagi kabur bagi kamu, lalu laksanakanlah keputusanmu untukku dan janganlah beri aluran waktu. Tapi kalau kamu berpaling, (maka ketahuilah) bahwa aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu, sebab upahku hanyalah di tanggung alloh dan aku di perintah agar aku termasuk orang orang yang pasrah (al-muslimun) ”.
Kesadaran akan al-Islam itu lebih lebih lagi tumbuh dengan kuat dan tegas pada nabi ibrohim. Seperti halnya dengan nuh, ibrohim juga di perintah untuk berIslam.
Ingatlah ketika tuhannya (yakni tuhan nabi ibrohim) berfirman kepadanya, “pasrahlah engaku (aslim)!” ia menjawab “aku berpasrah (aslamtu) kepada tuhan seru sekalian alam”.
Agama yang benar dengan inti ajaran pasrah kepada tuhan itu kemudian diwasiatkan ibrohim kepada keturunannya. Salah satu garis keturunan itu ialah nabi Ya’qub atau Israil (hamba alloh) dari jurusan nabi ishaq, salah seorang putra ibrohim. Wasiat ibrohim dan Ya’qub itu kemudian menjadi dasar agama agama israil, yaitu (yang sekarang bertahan), agama agama yahudi dan kristen:
Maka dengan (ajaran) itulah ibrohim berpesan kepada anak keturunannya dan juga ya’qub (dengan mengatakan), “wahai anak anakku, sesungguhnya alloh telah memilihkan agama untuk kamu semua, maka janganlah sampai kamu mati kecuali sebagai orang orang yang pasrah (al-muslimun, para pelaku al-Islam)”.
Jadi agama agama yahudi dan nasroni berpangkal kepada al-Islam, karena merupakan kelanjutan agama nabi ibrohim. Tapi tidaklah berarti bahwa ibrohim seorang yahudi atau nasroni, melainkan seorang yang pasrah kepada tuhan (muslim). Sebab mengatakan ibrohim seorang yahudi atau nasroni akan merupakan suatu anakronisme, karena ibrohim muncul jauh sebelum agama agama itu. Inilah makna firman alloh yang di wahyukan kepada nabi muhammad berkenaan dengan keterlibatan beliau dalam suatu polemik dengan kaum ahl Al-kitab (pengikut kitab suci, khususnya yahudi dan nasroni).
Wahai para ahli kitab, mengapa kamu berargumentasi mengenai ibrohim, padahal tauret dan injil tidak di turunkan oleh alloh kecuali sesudahnya. Tidaklah hal itu kamu pikirkan? Inilah dulu yang kamu berargumentasi tentang sesuatu yang kamu ketahui. Tapi mengapa kamu sekarang berargumentasi tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui ? alloh mengetahui semuanya dan kamu tidak mengetahui. Ibrohim bukanlah seorang yahudi ataupun nasroni, melainkan seorang hanif (pencari dan pecinta kebenaran) dan muslim, dan ia tidak termasuk mereka yang mempersekutukan tuhan (musyrik).
Pada dasarnya agama yahudi mengajarkan al-islam, di tegaskan dalam penuturan al-quran mengenai fungsi kitab suci taurat yang di turunkan kapada nabi musa untuk anak isroil.
Sesungguhnya kami tuhan telah menurunkan taurat, di dalamnya ada penunjuk dan cahaya, dan dengan kitab suci itu para nabi yang pasrah serta para pendeta dan para sarjana agama (al-ahbar) menjalankan hukum untuk mereka yang menganut agama yahudi, berdasarkan kitab alloh yang mereka di wajibkan memeliharanya dan mereka itu semuanya menjadi saksi.
Al-Islam sebagai ajaran nabi musa (yang kemudian di sebut agama yahudi) juga di simpulkan dari pernyataan firaun, musuh orang isroil pimpinan nabi musa itu, yang ketika akan tenggelam di telan air laut menyadari kesalahannya dan ingin bertaubat :
Dan kami telah jadikan banu isroil menyeberangi lautan itu, lalu diikuti oleh firaun dan bala tentaranya dengan rasa benci dan permusuhan. Maka tat kala ia (firaun) hampir tenggelam, ia berkata : “aku beriman bahwa tiada tuhan selain tuhan yang di percayai oleh anak turunan isroil (tuhan yang maha esa) dan aku termasuk yang pasrah (al-muslimun)”.
Begitu pula dengan nabi isa (yesus) atau al-masih (kristus) putra maryam beliau datang dengan membawa ajaran pasrah kepada tuhan sebagaimana dengan jelas dan baik sekali tercermin dari penuturan nabi isa itu dan para pengikutnya sebagai berikut :
Dan tatkala isa merasakan (kaum isroil) pembangkangan (kufur) ia berkata “siapa yang bakal menjadi pendukungku menuju alloh ? “al-hawariyyun pengikut setia nabi isa menjawab, kami para pendukung alloh, kami beriman kepada alloh dan saksikanlah bahwa kami adalah orang orang yang pasarah (muslimun)”.
Dan ingatlah ketika kami mewahyukan kepada hawariyyun , “berimanlah kamu sekalian kepada ku dan kepada rosulku (isa)! ” Mereka menjawab, “kami para pendukung alloh, kami beriman kepada alloh dan saksikanlah bahwa kami adalah orang orang yang pasrah (muslimun)”
Karena merupakan inti semua agama yang benar, maka al-Islam atau pasrah kepada tuhan adalah pangkal adanya hidayah ilahi kepada seseorang. Maka al-Islam menjadi landasan universal kehidupan manusia, berlaku bai setiap orang, di setiap tempat dan di setiap waktu.
Jika mereka berargumentasi kepadamu (hai muhammad) maka jawablah aku dengan keseluruhan diriku, telah pasrah (aslamtu) kepada alloh, juga orang orang yang ikut aku.” Katakan pula kepada mereka yang mendapatkan kirtab suci (al-ummiyyun, juga di artikan “kkaum buta huruf”), apakah kamu juga telah pasrah (aslamtum)?” kalau mereka telah pasrah maka mereka telah mendapat hidayah. Dan kalau mereka inkar, maka sesungguhnya engkau muhammad hanya berkewajiban menyampaikan (pesan). Dan alloh maha tahu akan hamba hambanya.
Selanjutnya ada indikasi daam al-quran bahwa manifestasi lahiriah al-islam itu dapat beraneka ragam, antara lain karena mengikuti zaman dan tempat. Namun dalam keaneka ragaman itu, semua orang mengabdi dan berbakti kepada wujudnya yang satu, yaitu tuhan dengan sikap pasrah kepadanya. Ini mendapatkan penegasan yang tak meragukan dalam kitab suci.
Oleh karena itu, al-islam adalah titik temu semua ajaran yang benar, maka di antara sesa,mma penganut yang tulus akan ajaran itu pada prinsipnya harus di bina hubungan dan pergaulan yang sebaik baiknya, kecuali dalam keadaan terpaksa, seperti jika salah satu dari mereka bertindak zalim terhadap yang lain. Sikap ini terutama diamanatkan kepada para pengikut nabi muhammada dan rosul alloh yang terakhir, sebab salah satuu tujuan dan fungsi ummat muhammad ialah sebagai penengah (wasith) antara sesama manusia, serta sebagai saksi (syuhada) atas seluruh kemanusiaan.
KOSMOPOLITISME KEBUDAYAAN ISLAM
Selain merupakan pancaran makna al-islam itu sendiri serta pandangan tentang kesatuan kenabian (wihdatunnubuwwah, the unity of propecy) berdasarkan makna islam, serta konsisten dengan semangat prinsip prinsip itu semua, kosmopolitisme budaya islam juga mendapatkan pengesahan pengesahan langsung dari kitab suci, seperti suatu pengesahan berdasarkan konsep konsep kesatuan kemanusiaan (wihdatul insaniyyah, the unity of humanity) yang merupakan konsep kemahaesaan tuhan.
Refleksi kosmopolitisme itu di kemukakan dalam segenap segi kebudayaan yang berkembang di dunia islam, sejak dari segi yang bukan material seperti dunia pemikiran sampai kepada segi segi yang material seperti arsitektur dan seni bangunan pada umumnya.
Konsep keilahian pada ibunda nabi isa, pada orang orang kristen di eropa , di dasarkan oleh mitos sekitar Dewi Minerva pada orang orang romawi dan yunani (yakni agama kristen di eropa sebenarnya di pengaruhi dan di kembangkan dari unsur unsur mitologi Yunani dan Romawi ). Tetapi mengatakan bahwa, masjid juga di dirikan diatas kuil yunani,Yakni, bahwa agama dan budaya islam juga berkembang berdasarkan unsur unsur agama dan budaya yunani, terasa sangat berlebihan. Namun tetap ada masih ada unsur kebenarannya dalam ucapan itu, yaitu terutama jika kita batasi pembicaraan kita kepada agama islam historis, yakni pemahaman agama islam di luar kitab suci dalam perjalanan sejarah orang muslim. Disiplin keilmuan tradisional islam yang sebanding dengan teologi pada agama kristen di sebut ilmu kalam dan para ahlinya di sebut mutakallimun, seperti yang kelak menjadi baku dan mapan dalam sistem asariyah adalah jelas sebagian yang culup besar merupakan pengaruh filsafat yunani.
Pengaruh filsafat yunani dan kebudayaan yunani (hellenisme) pada umumnya dalam sejarah perkembangan pemikiran islam sudah merupakan hal baru lagi. Pengaruh itu sendiri banyak yang negatif nilainya, tapi juga ada bagian yang positif . tapi dalam kaitannya dengan pokok pembicraan kita, sambutan hampir spontan kaum muslimin terhadap kebudayaan yunani. Seperti juga terhadap kebudayaan yang lain, dapat di pandang sebagai kelanjutan impulse universalisme islam.
Seperti dengan halnya budaya yunani dan yahudi, budaya persia juga amat besar sahamnya dalam pengembangan budaya islam. Jika dinsty umawiyah di damaskus menggunakan sistem administratif dan birokratif byzantyum dalam menjalankan pemerintahnyam dinasty abbasiah di baghdad (dekat ctesiphon, ibu kota dinasty persi sasan), meminjam sitem persia. Dan dalam pemikirannya tidak sedikit terpengaruh “persianisme” atau “aryanisme” (iranisme) yang masuk ke dalam sisteem islam. Ini terpantul dengan jelas dalam buku al-ghazali (ia sendiri orang persi), nasihat al-muluuk (nasihat raja raja), yang banyak sekali menggunakan unsur persianisme, disamping unsur arab berserta al-quran dan sunnah nabi, untuk mendukung konsep konsepnya tentang raja dan pemerintah baik. Demikian pula dalam buku karangan nidhom al-muluk, siyasat namah (pedoman pemerintahan), yang juga banyak menggunakan bahan bahan pemikiran persi.
Pola pola serupa ituy kita dapatkan di semua bagian dari dunia islam, namun kesemuanya sekaligus di lengkapi (overarched) oleh suatu dasar universal ajaran islam. Representasi pola itu dalam bidang budaya material yang paling baik ialah arsitektur masjid. Bahkan arsitektur islam itu sendiri, secara keseluruhannya mencerminkan watak kosmopolit budaya islam. Arsitektur sebagai perwujudan seni budaya islam di gambarkan oleh sir thomas w. Arnold.
Tentu saja cakupan budaya islam , sebagai budaya universal dan kosmopolit, luas sekali yang bagaimana pun tidak mungkin dibicarakan seluruhnya. Maka yang di harap adalah bahwa sedikit yang telah di kemukakan di atas memberi kita gambaran tentang budaya islam itu. Kesemuanya itu kembali kepada pokok pembahasan kita, yaitu bahwa konsep al-islam yang universal melandasi sebuah agama dengan impulse universalisme yang amat kuat, dan melahirkan budaya dengan watak kosmopolit.